Kamis, 04 Oktober 2012

pengertian suksesi (ekologi pertanian)



Pengertian Suksesi
Suksesi adalah suatu proses perubahan, berlangsung satu arah secara teratur yang terjadi pada suatu komunitas dalam jangka waktu tertentu hingga terbentuk komunitas baru yang berbeda dengan komunitas semula. Dengan perkataan lain. suksesi dapat diartikan sebagai perkembangan ekosistem tidak seimbang menuju ekosistem seimbang. Suksesi terjadi sebagai akibat modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem.
Akhir proses suksesi komunitas yaitu terbentuknya suatu bentuk komunitas klimaks. Komunitas klimaks adalah suatu komunitas terakhir dan stabil (tidak beruba h) yang mencapai keseimbangan dengan ling kungannya. Komunitas klimaks ditandai dengan tercapainya homeostatis atau keseimbangan, yaitu suatu komunitas yang mampu mempertahankan kestabilan komponennya dan dapat bertahan dan berbagai perubahan dalam sistem secara keseluruhan.
Berdasarkan kondisi habitat pada awal suksesi, dapat dibedakan dua macam suksesi, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder.
a. Suksesi Primer
Suksesi primer terjadi jika suatu komunitas mendapat gangguan yang mengakibatkan komunitas awal hilang secara total sehingga terbentuk habitat baru. Gangguan tersebut dapat terjadi secara alami maupun oleh campur tangan manusia. Gangguan secara alami dapat berupa tanah longsor, letusan gunung berapi, dan endapan lumpur di muara sungai. Gangguan oleh campur tangan manusia dapat berupa kegiatan penambangan (batu bara, timah, dan minyak bumi).
Suksesi primer ini diawali tumbuhnya tumbuhan pionir, biasanya berupa lumut kerak. Lumut kerak mampu melapukkan batuan menjadi tanah sederhana. Lumut kerak yang mati akan diuraikan oleh pengurai menjadi zat anorganik. Zat anorganik ini memperkaya nutrien pada
tanah sederhana sehingga terbentuk tanah yang lebih kompleks. Benih yang jatuh pada tempat tersebut akan tumbuh subur. Setelah itu. akan tumbuh rumput, semak, perdu, dan pepohonan. Bersamaan dengan itu pula hewan mulai memasuki komunitas yang haru terbentuk. Hal ini dapat terjadi karena suksesi komunitas tumbuhan biasanya selalu diikuti dengan suksesi komunitas hewan. Secara langsung atau tidak langsung. Hal ini karena sumber makanan hewan berupa tumbuhan sehingga keberadaan hewan pada suatu wilayah komunitas tumbuhan akan senantiasa menyesuaikan diri dengan jenis tumbuhan yang ada. Akhirnya terbentuklah komunitas klimaks atau ekosistem seimbang yang tahan terhadap perubahan (bersifat homeostatis).Salah satu contoh suksesi primer yaitu peristiwa meletusnya gunung Krakatau. Setelah letusan itu, bagian pulau yang tersisa tertutup oleh batu apung dan abu sampai kedalaman rata – rata 30 m.
Suksesi sekunder terjadi jika suatu gangguan terhadap suatu komunitas tidak bersifat merusak total tempat komunitas tersebut sehingga masih terdapat kehidupan / substrat seperti sebelumnya. Proses suksesi sekunder dimulai lagi dari tahap awal, tetapi tidak dari komunitas pionir.
Gangguan yang menyebabkan terjadinya suksesi sekunder dapat berasal dari peristiwa alami atau akibat kegiatan manusia. Gangguan alami misalnya angina topan, erosi, banjir, kebakaran, pohon besar yang tumbang, aktivitas vulkanik, dan kekeringan hutan. Gangguan yang disebabkan oleh kegiatan manusia contohnya adalah pembukaan areal hutan.
Proses suksesi sangat terkait dengan faktor linkungan, seperti letak lintang, iklim, dan tanah. Lingkungan sangat menentukan pembentukkan struktur komunitas klimaks. Misalnya, jika proses suksesi berlangsung di daerah beriklim kering, maka proses tersebut akan terhenti (klimaks) pada tahap komunitas rumput; jika berlangsung di daerah beriklim dingin dan basah, maka proses suksesi akan terhenti pada komunitas (hutan) conifer, serta jika berlangsung di daerah beriklim hangat dan basah, maka kegiatan yang sama akan terhenti pada hutan hujan tropic.
Lalu proses suksesi sangat beragam, tergantung kondisi lingkungan. Proses suksesi pada daerah hangat, lembab, dan subur dapat berlangsung selama seratus tahun. Coba kalian bandingkan kejadian suksesi pada daerah yang ekstrim (misalnya di puncak gunung atau daerah yang sangat kering). Pada daerah tersebut proses suksesi dapat mencapai ribuan tahun.
Kecepatan proses suksesi dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut :
  1. Luas komunitas asal yang rusak karena gangguan.
  2. Jenis-jenis tumbuhan yang terdapat di sekitar komunitas yang terganggu.
  3. Kehadiran pemencar benih.
  4. Iklim, terutama arah dan kecepatan angina yang membantu penyebaran biji, sporam dan benih serta curah hujan.
  5. Jenis substrat baru yang terbentuk
  6. Sifat – sifat jenis tumbuhan yang ada di sekitar tempat terjadinya suksesi.
Sukses tidak hanya terjadi di daratan, tetapi terjadi pula di perairan misalnya di danau dan rawa. Danau dan rawa yang telah tua akan mengalami pendangkalan oleh tanah yang terbawa oleh air. Danau yang telah tua ini disebut eutrofik.
Telah dijelaskan bahwa akhir sukses adalah terbentuknya suatu komunitas klimaks. Berdasarkan tempat terbentuknya, terdapat tiga jenis komunitas klimaks sebagai berikut :
  1. Hidroser yaitu sukses yang terbentuk di ekosistem air tawar.
  2. Haloser yaitu suksesi yang terbentuk di ekosistem air payau
  3. xeroser yaitu sukses yang terbentuk di daerah gurun.
Pembentukkan komunitas klimaks sangat dipengaruhi oleh musim dan biasanya komposisinya bercirikan spesies yang dominant. Berdasarkan pengaruh musim terhadap bentuknya komunitas klimaks, terdapat dua teori sebagai berikut :
  1. Hipotesis monoklimaks menyatakan bahwa pada daerah musim tertentu hanya terdapat satu komunitas klimaks
  2. Hipoteis poliklimaks mengemukakan bahwa komunitas klimaks dipengaruhi oleh berbagai faktor abiotik yang salah satunya mungkin dominan.



makalah ekologi pertanian 

BAB I
PENDAHULUAN



1.1.LATAR BELAKANG

Maraknya produk-produk pestisida di pasaran yang biasa digunakan untuk mempermudah pekerjaan di bidang pertanian ternyata merugikan, karena di dalam pestisida mengandung bahan kimia beracun yang bisa mengakibatkan pencemaran lingkungan. Pencemaran bisa terjadi melalui penguapan, pencucian oleh hujan, dan udara. Pencemaran pestisida menimbulkan residu yang ditinggalkan di lingkungan fisik dan biotik di sekitar kita sehingga akan mengakibatkan kualitas lingkungan semakin menurun.
Belakangan ini semakin marak kasus penggunaan pestisida yang berlebihan sehingga berdampak pada lingkungan sekitar. Dampak tersebut akan semakin parah jika masyarakat masih menggunakan pestisida tidak sesuai dosis yang dianjurkan dalam penggunaan masing-masing pestisida tersebut.
Penggunaan pestisida semakin marak digunakan karena harga yang terjangkau, dan cara aplikasi yang mudah, hal ini dilakukan masyarakat petani karena cara pengendalian organik cukup sulit dilakukan, dan harga pestisida hayati pun tergolong mahal di pasaran. Karena modal yang dimiliki petani Indonesia hanyalah modal kecil, tetapi mereka ingin mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa memikirkan dampak yang akan dihadapi kedepannya.
Padahal dampak tersebut akan besar efeknya terhadap proses pertanian selanjutnya sehingga pertanian berkelanjutan yang dilakukan tidak berhasil. Hal ini akan merugikan petani sendiri karena kegiatan pertaniannya akan terhambat karena masalah atau dampak dari penggunaan pestisida ini sudah ada.
Dampak penggunaan pestisida yang sudah kita rasakan efeknya dapat kita amati dari tanaman tersebut sendiri, seperti tanaman yang resisten terhadap pestisida, hal ini membuat tanah menjadi tidak subur,  dan susah diolah karena pembasmian tanaman akan sulit, maka Pemerintah harus menegaskan untuk mengurangi penggunaan pestisida di Indonesia untuk megurangi dampak tersebut.
Dengan demikian maka pertanian berkelanjutan akan dapat dilakukan, serta untuk mengurangi pencemaran dan maslah yang ada di dunia pertanian Indonesia.

1.2  TUJUAN

Untuk mengurangi dampak penggunaan pestisida dan pengamanan produksi beras nasional, agar dapat menurunkan dan mengendalikan jumlah penggunaan pestisida, meningkatkan produksi hasil petanian.
Untuk memberikan solusi permasalahan yang dihadapi pemerintah dalam menangani maslah mengenai penggunaan pestisida yang berlebihan.

1.2.MANFAAT

Untuk menerapkan pertanian berkelanjutan yang bebas dari dampak pestisida yang ada saat ini. Dan membantu Pemerintah menangani solusi dari masalah penggunaan pestisida yang berlebihan, dan juga untun mengurangi pencemaran yang ditimbulkan oleh penggunaan pestisida yang berlebihan.
Selain itu juga dapat pula belajar memamfaat kan lingkungan sekitar atau bahan-bahan yang ramah lingkungan untuk pembuatan pestisida hayati. Petani juga membantu masalah pemerinth dalam mengurangi dampak penggunaan pestisida kimiawi yang merugikan lingkungak dan berdampak pada kesehatan manusia.
Dapat juga membantu para ahli pertanian untuk menerapkan atau mengembangkan teknologi baru yang lebih ramah lingkungan yaitu dalam hal ini teknologi pembuatan pestisida hayati yang didapatkan waktu masih di bangku kuliah.
Pengurangan atau mentiadakan peenggunaan pestisida kimiawi juga akan berdampak meningkatnya mutu, kualitas, dan harga jual hasil pertanian Indonesia di luar negri, sehingga akan meningkatkan pendapatan petani dan dapat menciptakan lapangan kerja bagi pengangguran.




BAB II
LANDASAN TEORI



Dampak penggunaan pestisida terhadap lingkungan yang ada di Indonesia membuat masalah baru di Bidang Pertanian, yang menimbulkan masalah baru yang serius dalam Bidang Pertanian. Berikut ini kami lampirkan kutipan berita mengenai dampak pestisida yang kami ambil dari e-news :
Aksi Dampak Penggunaan Pestisida dan Pengamanan Produksi Beras Nasional
 (adm/23 Mei 2012)
JAKARTA – Kementerian Pertanian merencanakan Program Aksi Dampak Penggunaan Pestisida dan Pengamanan Produksi Beras Nasional di tujuh lokasi yaitu Kabupaten Lamongan, Banyuwangi, Klaten, Indramayu, Pinrang, Lampung Selatan, dan Tabanan.
Rencana aksi ini, menurut Prof Emil Salim, sejalan dengan program dari Presiden yakni Pro Growth, Pro Job, Pro Poor dan Pro Environment yang di dalamnya termasuk pangan dan pertanian, mulai dari peningkatan produksi hingga peningkatan pendapatan petani. Oleh karenanya, Prof Emil berharap rencana aksi ini dapat menurunkan dan mengendalikan jumlah penggunaan pestisida, menurunkan intensitas serangan wereng, meningkatkan produksi yang bertujuan tercapainya sasaran surplus 10 juta ton beras pada 2014, meningkatkan pendapatan petani.
Menurut Menteri Pertanian Dr. Suswono, pertanian yang pro lingkungan merupakan hal yang harus diperhatikan dalam pencapaian target surplus 10 juta ton beras yang turut serta memberi pengaruh untuk pertanian jangka panjang. Mentan pun berharap agar tujuh kabupaten yang ditunjuk dapat menjalankan program ini dengan baik dan dapat berhasil. “Saya berharap agar daerah yang menjadi percontohan ini dapat berhasil dan pada akhirnya daerah lain akan mengikuti,” ujarnya pada pertemuan di Jakarta, Selasa (22/5/2012).
Sementara, Kepala Badan Litbang Pertanian Dr. Haryono mengatakan bahwa pertemuan ini merupakan tindak lanjut terkait upaya mencapai swasembada pangan dan pencapaian surplus 10 juta ton beras pada 2014. Dari pertemuan ini pula diharapkan ada pengurangan penggunaan pestisida secara bertahap di Indonesia, yang bertujuan untuk kepentingan lingkungan dan pengendalian hama dan penyakit.  “Tanam padi secara serempak dapat mengurangi pemakaian pestisida,” ujarnya.
Pengurangan penggunaan pestisida, peningkatan produltivitas dan peningkatan pendapatan petani merupakan tujuan yang ingin dicapai, untuk itu ada tiga pilar  dalam kaitannya dengan rencana aksi ini yaitu penggunaan pestisida secara benar, pengumpulan dan pemanfaatan data dalam pengambilan keputusan, dan sistem budidaya beraspek fisiologis.

Berdasarkan berita di atas menunjukkan kaitan dampak pestisida terhadap lingkungan yang ada di salah satu daerah bagian di Indonesia. Yang memiliki dampak serius yang harus ditangani oleh kita, karena jika dibiarkan maka akan berdampak besar bagi lingkungan dan kehidupan yang ada di Indonesia, dan bahkan mungkin bisa memberikan dampak pada daerah bagian lain akibat dari penggunaan pestisida yang berlebihan, penggunaan yang tidak sesuai dosis yang dianjurkan, yang membuat tanaman resisten terhadap pestisida sehingga gulma-gulma atau tanaman yang akan kita basmi menggunakan pestisida menjadi kebal, maka tanaman tidak akan mati jika terkontaminasi oleh pestisida yang kita gunakan, oleh karena itu kita akan kewalahan dalam membasmi tanaman yang sudah resisten tersebut, sehingga tanaman yang kita usahakan juga tidak menghasilkan hasil produksi yang maksimal atau bahkan GAGAL.















BAB III
PEMBAHASAN



            Adapun yang jadi permasalahan pokoknyak dalam hal ini adalah dampak atau kerugian yang diakibatkan penggunaan pestisida, baik bagi tanaman maupun lingkungan. Karena kita tahu jika penggunaan pestisida secara terus-menerus dan di gunakan secara berlebihan, maka pestisida yang umumnya mengandug bahan-bahan kimia yang berbahaya akan terkontaminasi dengan tanaman budi daya yang menjadi makanan kita sehari-hari yang bisa membahayakan kesehatan kita, dan juga sisa-sisa pestisida yang tidak terserap tanaman akan menimbulkan efek negative bagi lingkungan.
            Hal seperti ini perlu penanganan yang cukup serius dari instansi-instansi atau pihak terkait terutama pemerintah dan kementrian pertanian. Sebenarnya dalam hal ini pemerintah bisa mencegah atau mengurangi penggunaan pestisida yaitu dengan cara membuat peraturan pelarangan penggunaan pestisida atau mengalihkan penggunaan pestisida kimiawi ke pestisidah hayati yang ramah lingkungan.
            Pemerintah harus mengenalkan pertanian organik yang menggunakan bahan-bahan organik untuk mkenekan peggunaan bahan-bahan kimia yang menimbulkan dampak negatif bagi tanaman, kesehatan maupun  lingkungan. Pemerintah harus mampu mengubah cara bertani orang-orang Indinesia pada umumnya yang gemar menggunakan bahan-bahan kimia untuk kegiatan pertanian tanpa memperhatikan dampak yang diakibatkan dan ditimbulkan oleh bahan-bahan kimia terutama yaitu pestisida kimiawi, karena kegiatan pertanian yang paling rentan mengalami kegagalan yaitu karena serangan hama.
            Dampak atau efek dari pestisida memang tidak dirasakan scara langsung tapi danpaknya baru terlihat dalam jangka waktu yang lama dan apa bila digunakan secara terus-menerus akan menimbulkan efek atau akibat yang sangat merugikan bagi kehidupan manusia di masa mendatang. Untuk itu mari sama-sama kita sebagai serjana pertanian, pemerintah dan semua instansi yang terkait merubah cara dan pola piker para petani Indonesia khususnya dan Kalimantan Barat pada umumnya
“Ayo stop penggunaan pestisida kimiawi, mari kita sama-sama bergerak kearah Pertanian Organik yang lebih ramah lingkungan, dengan Konsep Pertanian Organik Berkelanjutan.”


BAB IV
PENUTUP



4.1 KESIMPULAN

Dengan adanya penggunaan pastisida berlebihan banyak menimbulkan dampak yang terjadi baik itu dampak yang positif maupun negatif, dampak yang ditimbulkan biasanya berimbas atau berdampak pada individu yang terkontaminasi, salah satunya bisa menyebabkan resisten pada gulma yang akan dibasmi,serta tercemarnya lingkungan dan mangaggu kesehatan jika penggunaan terlalu berlebihan.
Disamping itu juga penggunaan pastisida juga mempunyai efek positif,salah satunya bisa membantu atau mempermudah para petani dalam membasmi serta mengendalikan gilma maupun  hama-hama yang mengganggu tanaman yang mereka kembangbiakkan jika penggunaannya dilakukan secara tepat dan benar dan budidaya yang beraspek biologis.

4.2 SARAN

Pemerintah harus berupaya mengenalkan pertanian organik berkelanjutan yang memanfaatkan bahan-bahan organik dalam bidang pertanian agar bisa mengurangi penggunaan pestisida yang berlebihan, serta melakukan banyak sosialisasi bagi para petani supaya lebih memahami dampak-dampak yang ditimbulkan dari adanya penggunaan pestisida yang berlebihan.
Pemerintah juga harus berupaya membuat peraturan atau larangan menggunakan pestisida yang berlebihan dan mengganti penggunaan pestisida kimiawi dengan penggunaan pestisida hayati yang ramah lingkungan agar hasil pruduksi pertanian yang dikembangkan memperoleh hasil produksi yang baik dan melimpah.


DAFTAR PUSTAKA


 sumber artikel :

Rabu, 09 November 2011

makalah dda


Bab 1
Pendahuluan

1.1 Latar Belakang
Dalam pertanian, tanaman adalah semua subjek usaha tani yang bukan hewan dan dibudidayakan pada suatu ruang atau media yang sesuai untuk usaha itu. Pengertian ini dibedakan dari penggunaan secara awam bahwa tanaman sama dengan tumbuhan. Pada kenyataannya, hampir semua tanaman adalah tumbuhan, tetapi ke dalam pengertian tanaman tercakup pula beberapa fungi, seperti jamur kancing dan jamur merang) dan alga(penghasil agar-agar dan nori) yang sengaja dibudidayakan untuk dimanfaatkan nilai ekonominya. Tanaman "sengaja" ditanam, sedangkan tumbuhan adalah sesuatu yang muncul atau tumbuh dari permukaan bumi.
Dalam pertumbuhan dan perkembangannya,tanaman dipengaruhi oleh berbagai faktor, faktor dalam yaitu faktor hereditas dan faktor hormon sedangkan faktor luar khususnya lingkungan yang mempengaruhinya yaitu cahaya,suhu,kelembaban dan nutrisi. Cahaya merupakan salah satu faktor penting pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman yang termasuk faktor lingkungan karena menjadi unsur penting pada proses fotosintesis pada tanaman. Pada proses ini, cahaya berperan dalam pembakaran unsur-unsur hara,proses ini dilakukan pada bagian klorofil daun.

1.2 Rumusan Masalah
a.      Apa pengaruh utama cahaya pada tanaman
b.     Bagaimana cahaya yang baik dan sesuai untuk pertumbuhan dan
perkembangan tanaman secara optimal?


1.3 Tujuan
a.      Mengetahui pengaruh utama cahaya pada tanaman
b.     mengetahui cahaya yang baik dan sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan tanaman secara optimal.






Bab II
Pembahasan

·         Cahaya mutlak dibutuhkan tanaman untuk fotosintesis. Cahaya secara langsung berpengaruh terhadap pertumbuhan setiap tanaman. Pengaruh cahaya secara langsung dapat diamati dengan membandingkan tanaman yang tumbuh dalam keadaan gelap dan terang.
·         Pada keadaan gelap, pertumbuhan tanaman mengalami etiolasi yang ditandai dengan pertumbuhan yang abnormal (lebih panjang), pucat, daun tidak berkembang, dan batang tidak kukuh.
·         Sebaliknya, dalam keadaan terang tumbuhan lebih pendek, batang kukuh, daun berkembang sempurna dan berwarna hijau.
·         Dalam fotosintesis, cahaya berpengaruh langsung terhadap ketersediaan makanan.
·         Tumbuhan yang tidak terkena cahaya tidak dapat membentuk klorofil, sehingga daun menjadi pucat.
Proses pembentukan glukosa dan oksigen pada tanaman dengan bantuan cahaya pada fotosintesis:
6H2O + 6CO2 + cahaya → C6H12O6 (glukosa) + 6O2

               
          Cahaya memiliki tiga karakteristik utama dalam pengaruhnya pada pertumbuhan dan perkembangan tanaman:

          A.Durasi cahaya atau Photoperiod
Mengacu pada jumlah waktu untuk tanaman terkena sinar matahari. Sebagian tipe tanaman dipengaruhi oleh lamanya penyinaran agar berbunga atau menghasilkan hasil yang baik. Berdasarkan lamanya penyinaran untuk pembungaan, tanaman dibagi kedalam:
1. Tanaman berhari pendek (short day plant)
Berbunga jika panjang hari kurang dari periode kritis tertentu, misalnya kastuba (Euphorbia pulcherima), ubi jalar (Ipomoea batatas), nanas (Ananas commosus), dan padi (Oryza sativa). Panjang hari harus kurang dari 11 hingga 15 jam agar pembungaan terjadi.
2. Tanaman hari panjang (long day plant)
Berbunga jika panjang hari lebih dari periode kritis tertentu, misalnya tanaman jarak (Rhicinus communis) dan kentang (Solanum tuberosum). Panjang hari harus lebih dari 12 hingga 14 jam agar pembungaan terjadi.

3. Tanaman hari netral (day-neutral plant).
Berbunga tidak tergantung pada panjang hari, dapat menghasilkan bunga kapan saja dalam setahun, misalnya jagung (Zea mays).

B.Kuantitas cahaya
          Mengacu pada intensitas cahaya yang dapat diterima tanaman itu.Berdasarkan intensitas cahaya yang dapat diterima itu ,tanaman digolongkan menjadi 3 jenis yaitu:
1.Tanaman C3
Merupakan jenis tanaman yang membutuhkan intensitas cahaya sedikit atau tidak dapat menerima cahaya dengan jumlah banyak. Dan untuk menghindari itu, biasanya pada pembudidayaan tanaman ini ,ditambahkan naungan agar intensitas cahaya yang diterimanya berkurang. Contoh tanaman C3 antara lain : kedelai, kacang tanah, kentang, dll
          2.Tanaman C4
Merupakan jenis tanaman yang membutuhkan intensitas cahaya banyak. Jenis tanaman ini tahan pada kondisi yang panas. Contoh tanaman C4 adalah jagung, sorgum dan tebu.
            3.Tanaman CAM
            Merupakan jenis tanaman yang membutuhkan intensitas cahaya banyak juga. Contoh tanaman CAM adalah nanas,kaktus,anggrek dll

            C. Kualitas Cahaya
                                    Mengacu pada warna atau panjang gelombang yang mencapai permukaan tanaman dan bermanfaat untuk tanaman.

          Pertumbuhan vegetatif

          Pada proses pembentukan vegetatif warna cahaya yang berguna ialah warna biru dengan panjang gelombang 430-470 nanometer.

Berbunga

                   Pada proses pembentukan bunga cahaya yang digunakan berwarna merah      dengan panjang gelombang 630-700 nanometer.
         

Cahaya tidak efektif
Cahaya yang tidak efektif pada semua proses pembentukan tanaman adalah cahaya berwarna hijau.
























KOMENTAR
v Dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman, cahaya matahari berperan penting terutama dalam proses fotosintesis.
v Tetapi dalam pengunaannya pada tanaman tergantung dari jenis tanaman tersebut. Misalnya pada tanaman C3 yang membutuhkan intensitas cahaya dalam jumlah sedikit contoh tanaman kentang, sedangkan tanaman C4 membutuhkan intensitas cahaya dalam jumlah banyak contoh tanaman jagung, begitu juga dengan tanaman CAM yang membutuhkan intensitas cahaya yang banyak juga, contohnya tanaman anggrek dan nanas.
v Kualitas cahaya juga di butuhkan oleh tanaman yaitu mengacu pada warna atau panjang gelombang yang mencapai permukaan tanaman.
v Kualitas cahaya juga ada yang tidak efektif untuk pembentukan tanaman yaitu cahaya warna hijau.


















Daftar Isi
Kata pengantar .................................................................................................................. i
Bab 1 ................................................................................................................................. 1
Ø Pendahuluan
        i.            Latar belakang
      ii.            Rumusan Masalah